A. AUDEO RECORDING
1. KASET
Kaset pertama kali diperkenalkan oleh Phillips pada tahun 1963 di Eropa dan tahun 1964 di Amerika Serikat, dengan nama Compact Cassette. Kemudian kaset semakin populer di industri musik selama tahun 1970-an dan perlahan-lahan menggeser piringan hitam. Produksi besar kaset diawali pada tahun 1964 di Hanover, Jerman. Pada awalnya, kualitas suara pada kaset ini tidak terlalu bagus untuk musik. Bahkan beberapa model awal tidak memiliki rancangan mesin yang baik. Pada tahun 1971, The Advant Corporation memperkenalkan model terbarunya, Model 201, yang menggabungkan Dolby tipe B pengurang gangguan (noise) dengan pita kromium dioksida. Oleh karena itulah kaset mulai dapat digunakan dalam industri musik secara serius, dan dimulailah era kaset berketepatan tinggi.Selama tahun 1980-an, popularitas kaset tumbuh semakin pesat karena hadirnya rekorder poket portabel pemutarnya seperti Sony’s Walkman. Seperti radio yang menyediakan musik pada 1960-an, pemutar CD portable pada 1990-an, dan MP3 player pada 2000-an, kaset memegang peran besar dalam dunia musik pada 1980-an dan 1990-an, bahkan di era sekarang (setelah 2000-an), kaset masih menjadi salah satu alternatif media musik. Lepas dari segi tekniknya, keberadaan kaset juga berdampak pada perubahan sosial. Keawetan kaset serta kemudahannya untuk dikopi berperan di balik berkembangnya musik punk dan rock. Kaset seakan-akan menjadi pijakan bagi generasi muda di kebudayaan barat. Untuk alasan yang sama pula kaset berkembang pesat di negara-negara berkembang. Pada tahun 1970-an, kaset dianggap membawa pengaruh buruk sekularisme di kalangan masyarakat religius India. Teknologi kaset menciptakan pasar yang membludak bagi musik pop di India, menimbulkan kritik dari kaum konservatif dan di waktu yang sama menciptakan pasar besar yang melegitimasi perusahaan-perusahaan rekaman dan pembajakan kaset.
B. VIDEO RECORDING
1. VCD
Ketika teknologi Audio CD dikembangkan di tahun 1972, pada tahun 1976 dengan menggunakan teknologi audio CD dikembangkan juga sistim pemutar video lewat kepingan cakram yang akhirnya menggunakan sistim Laser Disc.
Audio CD tidak menyimpan data pada kepingan CD, melainkan sinar laser akan ‘mengerok’ lapisan permukaan CD sehingga menghasilkan gerigi-gerigi kecil yang menghasilkan getaran suara. Konsep Audio CD persis seperti konsep piringan hitam. Ketika CD yang sudah terkerok tersebut diputar di player, maka sinar laser akan membaca permukaan CD, dan sinyal suara akan dihasilkan sesuai dengan getaran yang terjadi karena gesekan sinar laser dengan goresan di permukaan CD.Sama sistemnya, dimana jika gelombang gelombang video di rekam pada pita magnetik kaset Laser Disc mengerok permukannya untuk membentuk gelombang-gelombang video yang akhirnya dibaca kembali oleh sinar laser pada player. Hasil dari pendeteksian sinar laser tersebut langsung diterjemahkan menjadi sinyal gambar dan dikirim melalui kabel RCA (Composite) pada pesawat televisi.Laser Disc (LD) sangat terkenal hingga awal tahun 1990-an, hingga pada tahun 1993 muncul VCD (Video Compact Disc) yang sudah berformat digital.
2. DVD
Perkembangan penyimpanan Video secara digital ke dalam pita analog membuat para produsen media penyimpanan digital berfikir “Kenapa koq data digital disimpannya di dalam pita? Kenapa gak ke dalam produk kita aja dimana data disimpan dalam sebuah chip? Kan ringkas juga, tuh!”.Akhirnya dengan kompresi MPEG-2 dan MPEG-4 (tergantung produsennya) terciptalah format penyimpanan digital yang disimpan dalam media MMC (Multimedia Card), CF Card (Compact Flash Card), Sony Memory Stick Pro, P2 Card, bahkan Hard-Disc. Kamera yang menggunakan media penyimpanan digital ini menjadikan video yang kita rekam sebuah file video yang kemudian akan kita buka menggunakan komputer. Layaknya file video yang kita simpan di USB flashdisc, file-file video akan tersimpan di dalam media penyimpanan digital.Sampai dikeluarkannya DVD-Kamera pada tahun 2003, para pengguna kamera profesional masih percaya pada media kaset untuk perekaman gambar.Kamera-kamera kelas profesional perlahan mulai merambah ke media ini dengan target editing digital non-linear. Tokh nanti ketika akan diedit, video (walaupun ditaruh ke dalam pita kaset digital) akan dijadikan sebuah file video lagi yang dimasukkan ke dalam komputer. Pada awal hingga akhir tahun 2006, para produsen kamera (SONY, Samsung, Hitachi) membuat kamera dengan format penyimpanan DVD untuk kelas konsumen. Pada tahun 2007 akhir, SONY dan Panasonic mengeluarkan kamera Handycampro HD dengan format profesional (dengan spesifikasi sama dengan Sony D-55) yang mampu merekam gambar 1920 x 1080 (1080 line) dengan sensor ½” x 3 CCD menggunakan media rekam Digital Storage (Memory Stick Duo). Dengan rekomendasi penggunaan 8Gbites P2 dan menggunakan resolusi penangkapan tertinggi mampu merekam gambar selama 30 menit atau 320 menit dalam format DV standar.Format Digital Cinema-pun menyerah pada kemampuan pita dalam penangkapan gambar dengan resolusi tinggi dan penyimpanan file berukuran besar. ARRIFLEX D-20 (2048 x 1152, 2K) dan RED One (Red Technology Inc. Max. Res. 4096 x 2304, 4K) menggunakan media Hard-Disc dan Compact Flash Card sebagai Digital Magazinenya. Red One dengan ukuran sensor gambar 12 Megapixels CMOS berukuran Super 35mm “Mysterium” (lebar sensor 24,4 x 13,7cm) dapat menghasilkan resolusi maksimal 4096 x 2304 dan menghasilkan kompresi “RedCode RAW”. RED Code mampu menghasilkan kompresi Uncompressed dengan ukuran file dengan bitrate rendah , yaitu 28MB/st (224 megabits/dt), dan 36 MB/dt (288 megabits/dt). Bentuk dan ukuran kamera RedOne kecil, seukuran handycam dan berat kamera (body only) 4Kg.
Gambar ARRIFLEX D-20 – Format kamera dengan sistem Digital Cinema. Dengan sensor 35mm, ARRIFLEX D-20 mampu merekam gambar dengan resolusi 2K (2048 x 1152px), dengan media penyimpanan HardDisc sebagai Digital Magazinenya[1].
Gambar RedONE Digital Cinema – Format kamera yang mulai dijual di pasaran pertengahan 2007 ini walau berbadan kecil, tetapi memiliki sensor super 35mm CMOS (24,4 x 13,7 cm) dan mampu merekam gambar beresolusi 4K (4096 x 2304px) dengan media penyimpanan digital HardDisc maupun Compact Flash sebagai Digital Magazinenya[2].
RED Digital Magazine merupakan 2 buah 2,5” SATA (serial-ATA) Hard Disc 320 Gbytes dengan konfigurasi RAID 0 (2 harddisk merekam data yang sama bersamaan, menjaga agar jika salah satu harddisk rusak, masih ada backup-nya). 320 Gbytes HardDisk ini dapat menyimpan gambar beresolusi 4K dengan durasi 2 jam. HardDisk ini dapat dikoneksikan menggunakan firewire a (400mbps max), firewire b (800mbps), maupun USB 2.0 (420mbps). Red Camera juga menyediakan media penyimpanan menggunakan Compact Flash Card 8Gbytes. Dengan menggunakan CF Card 8 Gbytes, video beresolusi 4K dapat tersimpan dengan durasi 6 menit.
Munculnya/masukknya ARRIFLEX ke dalam dunia Digital Cinema menjadikan cukup banyak pro-kontra oleh para pendukung digital (dalam dunia perfilman) dengan para pendukung film analog. Film yang dikatakan memiliki ciri khas khusus dalam mereproduksi gambar dianggap tidak dapat digantikan oleh video. Sementara para produsen kamera video yang bersolusi tinggi tidak mau produknya disebut sebagai Hi-Res Video (video beresolusi tinggi), tetapi mereka menyebut dirinya Digital Cinema, walau pada kenyataannya memang prosesnya merupakan video beresolusi tinggi.Di Indonesia, Trans TV yang muncul pada tahun 2001 mengumandangkan sebagai The first Tape-less TV Station in Indonesia (transtv.co.id). Artinya, sistem penyiaran TRANS TV tidak menggunakan pita kaset, melainkan komputer dengan media penyimpanan Hard-Disk. Perdebatan terjadi menyangkut kompatibilitas komputer PC. Dengan kesimpulan bahwa sistim siar memang menggunakan media hard-disk, tetapi media penyimpanan “pasca siar” atau setelah siaran disimpan dalam bentuk kaset (DVCPRO 50) dan di simpan di dalam pustaka kaset milik mereka.
3.PIRINGAN HITAM
Awalnya, piringan hitam merupakan sebuah alat yang memiliki pena yang bergetar untuk menghasilkan bunyi dari sebuah disc. Ide ini berasal dari Charles Cros dari Perancis pada tahum 1887. Namun sayangnya tidak pernah terwujud. Pada tahun yang sama, Thomas A. Edison menemukan Phonograph (pemutar piringan hitam) yang berfungsi untuk merekam suara yang kebanyakan digunakan untuk keperluan kantor. Nama Gramophone berasal dari Emilie Berliner yang pada tahun 1888 menemukan piringan hitam jenis baru dan mematenkannya di bawah label Berliner Gramaphone. Pada tahun 1918 masa pematenan berakhir, semua label pun berlomba-lomba untuk memproduksi piringan hitam. Pada masa itu, kebanyakan pemilik gramophone masih terbatas pada kalangan menengah atas saja.
4.LASER DISK
Tahun 1958, Laser Disk ditemukan namun tidak sampai tahun 1972 untuk pertama kalinya Video Disk didemonstrasikan kepada publik. Enam tahun kemudian, yaitu tahun 1978, sudah tersedia di beberapa pasaran. Hal yang tidak mungkin menyimpan data pada disk, namun mereka dapat menyimpan data dalam bentuk video dan gambar secara signifikan dengan kualitas tinggi lebih canggih dari teknik pada VHS.
5.BETACAM
Sony Betacam adalah format analog pengganti U-Matic dalam penggunaan video untuk penyiaran (broadcasting). Pada saat itu, Betacam tampak seperti ‘dewa’ video. Semua stasiun TV diwajibkan menggunakan format Betacam dan siapapun yang ingin memutar videonya di televisi, wajib menyerahkan dalam format Betacam. Rumah-rumah produksi yang memposisikan diri di kelas atas (High-End) biasanya ditandai dengan mampunya melakukan editing dengan sistem Betacam. Hal semacam ini sempat saya (penulis) alami. Setelah mendominasi sistem video dunia penyiaran televisi, peralatan penyiaranpun didominasi dengan label “BETACAM Support/Compatible” mulai dari Kamera Video, Video Switcher, bahkan hingga Sistem penyiaran RF (Radio Frekuensi).Sistem penyiaran serta teknologi video Betacam masuk ke Indonesia mulai tahun 1987 (dimulai dari TVRI, lagi-lagi sumbangan dari SONY Jepang). Sistem penyiaran Betacam sangatlah mahal, karena teknik dagangnya dibagi-bagi menjadi per bagian. Misalnya : Player sendiri, Recorder sendiri, Betacam Kamera (Recorder only), Betacam Kamera (With Video Tape Recorder Docking) dan Betacam Kamera (Camera Only). Harganyapun tidak main-main. Harga mesin-mesin pendukung Betacam berada di kisaran 100 juta keatas. Peralatan-peralatan Betacam sangat berat. Kamera portable-nya misalnya, beratnya berkisar mulai dari 16kg hingga kamera panggulnya mencapai 32kg. Stasiun-stasiun televisi swasta di Indonesia yang muncul di tahun 1987 – 1995 berinvestasi dengan sistem Betacam. Pada saat itu, untuk berinvestasi membuat stasiun televisi dana yang dibutuhkan sangatlah besar.Dengan resolusi video yang terbesar pada saat itu (420 x 400px) dan kemampuan memproduksi garis horizontal sebanyak 300 line, Betacam adalah pilihan terbaik, walaupun pada akhirnya berkembang kembali menjadi sistem Digital Betacam (1993), Betacam SX (1996) lalu HDCAM (1997), dan yang terakhir HDCAM SR (2003). Betacam terus dikembangkan oleh SONY untuk mempertahankan format dari Betacam yang pernah ‘mendewa’. Apapun format video Betacam, dia tetap bertahan menggunakan jenis kaset yang sama. Ada 2 jenis kaset video Betacam. Kaset “L” (Large) berdurasi maksimal 90 menit sementara kaset “S” (Small) berdurasi maksimal 30 menit. Pada tahun 1986, Betacam dikembangkan menjadi sistem Betacam SP, dimana dia mampu memproduksi 340 lines gambar. Dengan teknologi ini perbesaran gambar untuk mencapai gambar 625/50i line PAL TV sangatlah dekat, hanya 2 kali perbesaran. Walaupun, jika sekarang kita menyaksikan rekaman lengsernya Presiden Soeharto tahun 1998 dulu, hasilnya akan kita akui “Jelek!”.
6.VHS
Video Home System (VHS), itulah format video dengan lebar penampang pita 16mm penantang Betamax yang dikeluarkan oleh pendatang video baru dari Jepang, Japan Victor Company (JVC) di tahun 1976. Sebelumnya, JVC lebih intensif dalam produksi proyektor film 16mm. Dengan harganya yang murah dan kualitas yang sedikit lebih baik, bahkan lebih praktis dan stabil dari Betamax (dimana Betamax kecepatannya tidak standar. Jadi, antar kaset video memiliki kecepatan putar yang sedikit berbeda, sehingga setiap kali mengganti kaset video harus di-set kembali kecepatannya, jika tidak di ganti, akan tampak garis-garis semut pada gambar).Disinilah perang format dimulai. VHS memiliki durasi putar lebih lama (maksimal 180 menit) dibandingkan dengan Betamax (maksimal 124 menit). Sementara saat dipercepat (play-fastforward) atau dimundurkan (play-rewind), VHS dapat menghasilkan gambar yang bersih. Walau sebenarnya, teknologi VHS juga masih mengadaptasi teknologi SONY (enhanced-Betamax technology) tanpa sepengetahuan atau izin dari SONY. Akhirnya, di tahun 1986, Betamax menghilang dari pasaran. Resolusi video yang dihasilkan sama dengan Betamax (350 x 311px, 250 line), tetapi reproduksi ketajaman gambar yang dihasilkan lebih baik dari Betamax. Walau begitu, reproduksi warna yang dihasilkan Betamax masih lebih baik ketimbang VHS. Penggunaan kaset VHS di dunia, bagi penonton yang menginginkan hasil video rumahan berkualitas tinggi tetap bertahan menggunakan pita VHS hingga DVD mulai menjadi trend (sekitar tahun 2003, walaupun teknologi DVD sudah ada sejak tahun 1997)
7.U-MATIC
Sony U-Matic merupakan konsep pengembangan yang kemudian menjadi standar industri penyiaran di dunia selama hampir 15 tahun. Dengan resolusi yang dibawah standar (hanya 250 line), sejak tahun 1971 dia menguasai seluruh sistem penyiaran dunia. Akhirnya di tahun 1985, dengan subsidi dari Jepang, Televisi Republik Indonesia (TVRI) akhirnya merubah secara total sistim penyiarannya dari sistim U-Matic (yang masih bersolusi gambar rendah 350 x 300 pixel) menjadi sistem Sony Betacam.Dengan berkembangnya teknologi, sistem perekaman dengan menggunakan sistem U-Matic dihentikan dan teknologinya tidak diteruskan. Kualitas rekam yang sama dengan Betamax dan VHS membuat dia kalah saing dengan penerusnya, Betacam. U-Matic yang hanya sekualitas VHS dianggap tidak memenuhi syarat Broadcast. Standart penyiaran yang paling bertahan lama. Di Indonesia sampai saat ini, beberapa lembaga seperti TVRI, Studio Universitas Terbuka & Studio Universitas Atma Jaya masih menyimpan dokumentasi dalam format ini walau tidak digunakan lagi.Seiring dengan kebutuhan penimpanan video, sejak tahun 1960-an telah dikembangkan berbagai jenis media penyimpanan video yang diawali dengan penyimpanan video dalam bentuk pita magnetik analog yang menyimpan gelombang gambar dan gelombang video secara bersamaan, yang besar pitanya berpengaruh pada kualitas (karena berpengaruh terhadap besar resolusi gambar). kemudian merambah ke berbagai format video lainnya. Pita magnetikpun akhirnya merambahi dunia digital. Di dalam format digital, pita magnetik yang ada hanya sebagai tempat penyimpanan data dan tidak berpengaruh pada kualitas karena kualitas ditentukan oleh sistem proses yang mengubah energi cahaya ke dalam bentuk digital. Jadi, pernyataan-pernyataan yang mengatakan besar penampang pita ke dalam bentuk digital menentukan kualitas itu tidak benar.
8.QUADRUPLEX ( 1956 )
QUADRUPLEX merupakan konsep sempurna pertama dari video yang digunakan secara umum dan menghasilkan gambar berwarna. Sistem ini merupakan perkembangan dari VERA (Vision Electronic Recording Apparatus) kembangan BBC pada tahun 1952 yang per detiknya menghabiskan 5,08 meter atau 18,3km/jam dan menghasilkan gambar hitam-putih yang sangat buruk. QUADRUPLEX , dengan gulungan pita selebar 2 inchi dan menghabiskan pita sebanyak 38cm/detik dapat merekam video dan audio secara bersamaan. Sistem ini mulai digunakan di sekitar tahun 1960. Jenis video pertama ini dikembangkan oleh perusahaan AMPEX (Alexander M. Poniatoff Excellence) di Amerika di tahun 1956. Hingga tahun 1958, BBC menyerah mengembangkan VERA dan segera beralih ke sistem QUADRUPLEX dalam sistem penyiarannya.Setelah sekian lama tergunakan, akhirnya jenis video ini segera digantikan oleh format U-Matic buatan SONY. TVRI yang sejak awal didirikanpun (1962) menggunakan format QUADUPLEX, yang kemudian diawal tahun 1970an beralih ke format Sony U-Matic. (dengan sumbangan dari SONY Jepang).
9.HVD
HDV adalah teknologi yang ditujukan untuk mengganti teknologi DV serta berniat mengalahkan format DVCPRO HD & HDCam yang muncul terlebih dahulu. Dasar pemikirannya adalah “Jika HD sudah menjadi standar, kenapa format HD tidak dibuat dengan harga murah yang mampu dikonsumsi semua kalangan?” Jika kita telaah, seperti DV, HDV merupakan format dan pendatang baru yang mampu menggebrak dunia penyiaran maupun perfileman.Karena dengan niat mengganti teknologi DV, format HDVpun direkam di atas media DV (kaset DVCam & miniDV). Horee! Di dalam kaset DV, HDV dapat direkam ke dalam 2 sistem : PAL dan NTSC. Pada format HDV pula, perbedaan ukuran gambar di kedua sistem tidak lagi tampak. Yang tersisa adalah jumlah bingkai di setiap detiknya. PAL tetap bertahan pada 25fps (25p/50i), sementara NTSC pada 30fps (30p/60i).Ukuran gambar yang dihasilkan HDV (PAL maupun NTSC) adalah 1440 x 1080 (yang kemudian akan menyesuaikan dengan ukuran HD sebenarnya 1920 x 1080). HDV menghasilkan bitrate yang sama dengan DV yaitu 25mb/detik. “kok bisa?!” HDV menggunakan sistim kompresi Interframe MPEG2-GOPs dan merekam dengan mengelompok-kelompokkan gambar. Pada PAL, 25fps di pepatkan menjadi 12 GOPs (Group of Pictures), sementara pada NTSC, 30 gambar dipepatkan menjadi 15 GOPs. GOPs merupakan teknologi baru pada video digital yang dapat mengelompokkan beberapa gambar dalam 1 kelompok gambar pada saat penyimpanan. Lalu akan dipisahkan kembali ketika frame tersebut dibaca atau di playback.Banyak yang masih beranggapan bahwa HDV adalah semacam sistem penangkapan gambar yang dilakukan oleh kamera berperlengkapan HD (lensa HD dan sensor HD) lalu diproses ke dalam format DV. Pada kenyataannya, bahwa memang penangkapan dilakukan dengan sistem HD dan direkam dalam media DV dengan sistem HDV. Jadi sistim perekaman HDV bukan DV, melainkan format HD yang dikompresi menggunakan MPEG2-GOPs dan hasilnya menjadi format bernama HDV di simpan dalam media kaset miniDV.Sistem HDV ditemukan oleh JVC di tahun 2003 dan kemudian disempurnakan oleh SONY pada tahun 2004. Lalu Canon dan Hitachi mengikuti belakangan. Setelah 4 tahun berlalu pada tahun 2007, baru Panasonic bermain juga di kelas HDV. Itupun tampak ragu-ragu. Produk HDV Panasonic yang direkam menggunakan media miniDV hanya sedikit, salah satunya Panasonic P-2. Kemudian Panasonic mengembangkan kamera HDV dengan media rekam SD Card.Sistem HDV ditujukan dan akhirnya dengan sukses merambah ke berbagai macam kalangan, mulai dari konsumen rumahan (Home-use), konsumen semi-profesional (Prosumer), konsumen profesional (Broadcaster), bahkan para pembuat film (film-maker) di dunia. Dengan kamera yang relatif ringkas (kecil) dan peralatan perlengkapannya yang relatif murah,teknologi HDV menjadikan teknologi andalan saat ini.TV-ASAHI dan NHK Jepang adalah 2 stasiun TV pertama yang menjadikan HDV sebagai sistem siaran mereka (2003 – 2004). Untuk menjaga kualitas, dalam pengambilan gambar dalam studio, mereka menggunakan kamera dengan format HDCAM yang bersensor besar dan berlensa profesional (sehingga ketajaman gambar terjamin). Kedua stasiun televisi tersebut menyediakan 2 jalur siaran sekaligus yaitu HDV dan SD (Standard Definition) untuk konsumen yang masih menggunakan televisi SD. Untuk dapat menikmati kualitas asli dari HDV. Dalam siaran HDV, kebutuhan Color Sampling tidak lagi dibutuhkan karena siaran mereka sudah menggunakan sistim digital, yang artinya kualitas tidak akan turun pada kabel koneksi dan gelombang siaran mereka, karena koneksi gambar dan gelombang siaran sudah menyiarkan gelombang digital berupa data-data biner dan ketika ditangkap oleh pesawat televisi konsumen gelombang digital tersebut langsung di proyeksikan oleh televisi HD yang biasa berupa televisi LCD (Liquid Crystal Device) atau plasma TV. Hingga saat ini Indonesia belum memiliki stasiun televisi yang menyediakan jasa siaran digital HDV. Hal ini berhubungan dengan daya beli masyarakat Indonesia dimana 92% penonton masih menggunakan televisi SD. Harga televisi HDpun masih tinggi. Jadi, untuk merubah sistem ke HDV, selain harus berinvestasi kembali dengan sistem yang perubahannya signifikan (mulai dari media rekam hingga sistem siarannya), perubahan ke format HDV masih dianggap sia-sia karena 92% konsumen tidak akan menikmati kualitas siaran tersebut.Kemunculan format HDV pertama kali di dukung beberapa produsen piranti lunak (software) editing non-linear yang antara lain : Apple Inc (Final Cut Pro), AVID Inc (AVID Xpress HD), Canopus EDIUS Pro, Sony Media Software dan Ulead. Kemudian di kemunculan Adobe Premiere Pro 1.5, Adobe mengikuti dengan menambahkan kemampuan editing HDV. Menurut pengalaman saya, Canopus EDIUS merupakan perangkat editing profesional yang paling ringan dalam mengolah HDV. Jika menggunakan Adobe Premiere Pro 3.0 (CS3) untuk mengolah HDV 1080i dibutuhkan spesifikasi komputer minimal Processor Intel Pentium 3.0 GHz/RAM 1 GB; dan AVID Xpress HD (Processor Intel Core2Duo 2,4 GHz/RAM 2 GB atau Dual Intel Xeon 3 GHz/RAM 2 GB)
10. Panasonic-DVC.HD 2000
Adalah pesaing besar dari HDCam. Dengan kemampuan menghasilkan warna 4:2:2 (HDCam hanya 3:1:1) DCVPRO HD mampu mengalahkan kualitas dari HDCam. Sayangnya, karena berusaha menampilkan warna 4:2:2, DVCPRO HD mengurangi resolusi gambar menjadi 960 x 720 px (720i/p) (untuk kemudian diperbesar menjadi 1280 x 720 px) dan 1440 x 1080 (1080i/p) untuk memuatkan besar data maksimum 100mb/detik agar pita video DVCPRO mampu menampung kebutuhan datanya.Walaupun memiliki resolusi lebih rendah ketimbang HDCam, Panasonic DVCPRO HD tetap memiliki kualitas di atas HDCam dalam hal reproduksi warnanya. Dalam dunia penyiaran, kelas HDCam dan DVCPRO merupakan format HD yang biasa digunakan dalam studio karena besar peralatan dan perlengkapannya yang berat dan repot.. Di tahun 2006, Panasonic mengeluarkan media rekam Panasonic P2, semacam media rekam flash-drive berbentuk seperti PC-Card (PCMCIA) dengan kapasitas 8 dan 16Gb. Dengan kamera yang kecil dan berukuran seperti layaknya handycampro, kamera ini dapat merekam dari format DV25, DVCPRO 50, hingga DVCPRO HD. Saat ini, Panasonic P2 sudah wajar digunakan dalam produksi film layar lebar hingga video clip. Untuk format DVCPRO HD, 8Gb P2 Card mampu merekam 6 menit durasi video.
11.DVCPRO●50
Adalah saingan besar dari Digital Betacam karena banyak digunakan juga dalam industri penyiaran televisi. Harga kaset dan teknologi pendukung lainnya (Player, recorder, dsb) yang sangat murah (dibandingkan DIGITAL BETACAM) dan bentuknya yang relatif ‘ringkas’ (secara fisik sama dengan/menggunakan kaset DVCPRO25) membuat penggunaannya lebih mobile.Format DVCPRO●50 di Indonesia dalam penggunaannya di dunia penyiaran televisi dimulai oleh stasiun televisi METRO TV dan TRANS TV di tahun 2000. Format rekamnya yang menggunakan kompresi 3,3:1 (dan menghasilkan bitrate 50Mb/dt) membuat ketajaman gambar dan reproduksi warna dianggap lebih baik. Untuk siaran, kabel koneksi yang digunakan menggunakan kabel koneksi Component Y’CbCr dan siaran di Indonesia masih menggunakan gelombang UHF (Ulta-High Frequency) analog. Maka untuk menghindari jatuhnya kualitas pada kabel, digunakan DVCPRO●50 yang mampu mereproduksi warna (dengan Color Signal Sampling) 4:2:2. Sehingga diharapkan jika warna jatuh pada kabel koneksi dan siaran analog, minimal reproduksi warna jatuh hingga 4:1:1 dan tetap memenuhi syarat.
12.SONY HDCAM ( 1997 )
Ketika kita membahas tentang DV, bukan berarti kita hanya membahas format DV, tetapi HD atau HDV bahkan Digital Cinema juga termasuk dalam ‘DV’. DV disini berarti “Digital Video”, dimana video direproduksi ke dalam bentuk biner 0 dan 1 (digital) dan data digitalnya disimpan dalam tempat penyimpanan (storage) digital.Format HDCAM ini kurang begitu populer setelah keluarnya format HDV di tahun 2003. Teknologi HDCAM sangatlah mahal. HDCAM dapat merekam gambar dengan kompresi Uncompressed, dan beresolusi gambar 1920 x 1080. Ini adalah awal munculnya format HD.Teknologi HDCAM yang sangat mahal. Harga kameranya mencapai Rp. 500 juta dan kasetnya mencapai Rp. 600.000 untuk durasi 20 menit. Beberapa sineas (pembuat film) yang percaya akan kualitas video pada saat itu menggunakan teknologi HDCAM untuk membuat filmnya hingga sekarang. Walaupun hasilnya masih bisa dikatakan “video banget!”, tetapi resolusi yang dicapai tidak tersaingi hingga saat itu belum ada yang mengalahkan.Teknologi HDCam (dan DVCPRO HD) membutuhkan kecepatan transfer data sebesar 100mb/detik. Kecepatan yang sulit untuk mendapat dukungan komputer konsumen saat ini. Sehingga format ini didesain untuk proses editing linear menggunakan kabel komponen Y’CbCr.Ini agak panjang. Jika kita runut ke belakang, Teknologi HD dimulai saat ini. HD adalah kependekan dari High Definition, sebuah perkembangan dari SD (Standard Definition). Format baru yang dianggap bisa menciptakan kualitas gambar yang lebih. Format HD menjadi perdebatan karena bukan hanya sistim siaran yang harus di ubah, tetapi televisi yang konsumen pergunakan pada umumnya merupakan televisi SD (PAL 576 line; NTSC 480 line). Pada saat HDCam muncul, teknologi HDCam banyak dipergunakan oleh para pembuat film yang mengumpulkan potongan-potongan gambar untuk dokumenter (karena dianggap ini adalah format yang terbaik). Sayang, format ini masih belum bisa dijangkau oleh lembaga penyiaran.Pada bentuk fisiknya, beberapa format HD yang muncul antara lain HDCam, HD Vision, DVCPRO-HD, VIPER dan HDCam SR. Mereka mampu memproduksi ukuran gambar 1920 x 1080 (1080i/p) atau 1280 x 720 (720i/p) pixel dengan Color Sampling Signal 4:2:2 (HDCam hanya mampu menciptakan color
sampling signal 3:1:1).
13.DV25 Format (DV, miniDV, DVCPRO & DVCam) (1995 – 1996)
Perang format video kembali terjadi setelah video analog Betamax dan VHS dulu. Kali ini dalam format DV. Sebelumnya perlu dijelaskan terdahulu, format DV adalah format standar dunia, yang digunakan oleh berbagai kalangan baik kalangan rumahan (konsumer), semi-profesional (prosumer), profesional, hingga sineas.DV, adalah format perekaman standar digital video. Mampu memproduksi gambar berukuran 720 x 576 (PAL), dan 720 x 480 (NTSC) dengan kemampuan penangkapan garis horizontal maksimal 576 line. Kompresor DV sangat banyak yang antara lain : Sony DV Codec, Panasonic DV Codec, Microsoft DV Codec, QuickTime DV Codec, Canopus HQDV Codec, AVID DV Codec (MXF), dan puluhan codec lainnya). Tetapi apapun kompresornya, teknologi DV dikompresi dengan rasio 5:1 dan menghasilkan bitrate 25Mb/detik atau jika di transfer ke hard-disk untuk diproses lebih lanjut, format DV menghabiskan 13,2Gb/jam. Dengan sistem Intraframe Compression, data yang ada pada kaset DV dapat di transfer secara digital dengan menggunakan teknologi Firewire (Applecode : IEEE/1394) , atau Sony menyebutnya i-Link yang membuat DV tidak kehilangan kualitas pada hambatan yang terdapat dalam kabel koneksi analog (seperti pada kabel komponen Y’CbCr/BNC). Teknologi transfer data video digital ini dibuat karena memang teknologi DV dirancang untuk diedit secara digital (Non-Linear Editing) atau editing dengan menggunakan software editing pada komputer. Sampai dengan saat ini, teknologi DV menjadi standar bagi para pengguna prosumer (semi-profesional), bahkan sampai dengan pengguna profesional (pembuat filem atau jurnalis).miniDV adalah bentuk pertama dari pengemasan format DV, yang disebut “S-Size DV”. Pita kaset miniDV dengan kesepakatan bersama menjadi kaset standar teknologi DV. Bentuk kasetnya kecil dan ringkas. Harganyapun hanya berkisar antara Rp. 15.000 hingga Rp. 20.000 per kaset. Media miniDVpun sanggup untuk merekam format DVCam atau DVCPRO. Jika miniDV (yang rata-rata berdurasi 62 menit) direkam dengan menggunakan format DVCam atau DVCPRO, maka durasinya akan berkurang 22%. Hal ini dikarenakan format DVCam maupun DVCPRO membutuhkan daya putar lebih cepat dari pada format perekaman menggunakan format DV. Sedikit saya ulang, bahwa pada teknologi digital, jenis kaset tidak menentukan kualitas gambar. Yang menentukan adalah format & cara perekaman gambar (yang meliputi cara mengkompresi gambar yang ditentukan oleh codec/compressor dan juga proses merubah energi cahaya ke dalam bentuk digital pada saat pengambilan gambar oleh processor kamera tergantung kemampuan kamera kita).SONY DVCam Tape adalah bentuk dagang dari SONY. Sementara Panasonic DVCPRO (atau sering disebut DVCPRO25) adalah bentuk dagang dari Panasionc. Sebetulnya sama saja dengan miniDV. SONY DVCam Tape juga merupakan “L-Size DV” karena juga bisa merkam format DV. Dengan target pengguna kaum ‘profesional’, diciptakan kaset berformat DVCam yang rata-rata dijual dengan harga Rp. 150.000,-. SONY DVCam Tape berdurasi maksimal 240 menit jika kita merekam dengan format DV. Jika direkam dengan format DVCam yang memakan kecepatan 22% lebih cepat, maka durasi akan berkurang. DVCam sendiri merupakan perkembangan dari Sony yang mempercepat sistem putar kaset sehingga mengurasi “loncatan-bingkai” (atau biasa diistilahkan “Drop-frame”) pada saat dipindahkan (di capture atau di digitize) ke komputer untuk kemudian di edit secara digital (non-linear editing). Panasonic DVCPRO juga sama dengan DVCam. Hanya saja ukuran kaset DVCPRO berada diantara miniDV dengan DVCam. Kaset DVCam keluaran SONY (disebut sebagai “L-Size DV”); Kaset DVCPRO keluaran Panasonic (beberapa pihak menyebut ini sebagai “M-Size DV”); miniDV (disebut sebagai “S-Size DV”) yang merupakan standar pengguna DV di dunia. Produsen kamera yang tidak memiliki standar kaset eksklusif menggunakan miniDV sebagai media perekamannya, walau produknya kelas profesional sekalipun.Selain daripada mengurangi ‘loncatan bingkai’ (Drop-frame) dan pita kaset yang lebih tebal daripada miniDV (sehingga lebih tahan lama), DVCam maupun DVCPRO tidak memiliki kelebihan dari segi kualitas jika dibandingkan dengan DV standart atau miniDV. Hanya saja kelas pasarnya yang berbeda. DVCam dan DVCPRO ditujukan kepada pasar profesional[1]. Pita miniDV dan DVCam mengandung Metal Evaporated tape sementara pada DVCPRO mengandung Metal Particle Tape yang membuat ketahanan data pada pita semakin awet.Beberapa produsen kamera yang tidak memiliki format kaset eksklusif seperti Japan Victor Company Inc. (JVC) dan Canon Inc. memilih menggunakan kaset miniDV sebagai media perekamannya, walau produknya kelas profesional atau super profesional sekalipun. Sementara seperti yang kita ketahui, JVC dan Canon adalah pemimpin dalam masalah kualitas gambar yang di produksi oleh kamera keluaran mereka. Jadi, kita jangan tertipu dengan ukuran miniDV yang ‘imut’ itu. miniDV adalah sebuah teknologi yang luar biasa. Kecil-kecil cabe rawit!Yang menjadi masalah adalah karena munculnya kamera DV kelas konsumen. Kamera kelas konsumen yang hanya mampu mereproduksi gambar 320 hingga 440 line memperburuk nama kaset DV di mata pengguna profesional. Biasanya, kamera yang dibuat untuk merekam format DVCam atau DVCPRO (yang memang sudah menargetkan diri di kelas profesional) memproduksi kamera dengan kemampuan produksi 576 line.Perkembangan dari teknologi DV ini adalah Digital-S (D9) buatan JVC, dan Digital 8. Keduanya merupakan konsep DV yang sama dengan miniDV, DVCam tape dan DVCPRO, tetapi direkam pada media yang berbeda. Digital-S adalah sistem rekaman standar JVC menyaingi SONY DV, sayang produk ini tersingkir karena kalah pasar oleh Sony. Sementara Digital-8 adalah produk SONY yang merekam format DV di dalam kaset Hi-8. Sistem ini dibuat sony (lalu diteruskan oleh Hitachi) untuk mempertahankan format Hi-8 dan Video 8 yang sempat sangat berjaya di kelas konsumen (kok saya pikir SONY itu melankolis juga ya –jaw). Format Digital 8 juga ditujukan kepada kelas konsumen rumahan (home-use) dan dapat direkam diatas pita Video8 dan Hi-8.Sinetron di Indonesia hingga saat ini direkam dengan kamera SONY D-50/D-55. Kamera tanpa perekam kaset yang mampu menghasilkan gambar berukuran 720 x 576 (dengan sensor 3 x ½” CCD), format uncompress, dan garis horizontal sebanyak 750 (D-50) hingga 920 (D-55) line. Kamera ini memiliki range harga antara 98 hingga 120 juta. Menggunakan kabel BNC (Component Video), kamera ini dikoneksikan kepada Recorder DVCam yang sebenarnya hanya mampu menangkap 576 line gambar dan kompresi 5:1 (bitrate 25mb/dt). Tapi seperti kita lihat, hasil yang tampak di televisipun sangatlah bagus.Pada bulan Maret 2002, George Lucas dari Lucas Film, Ltd. Membuat film Star Wars II menggunakan kamera video Canon XL-1s untuk memproduksi filmnya[2]. Canon XL-1s yang menggunakan kaset miniDV sebagai media rekamnya. Dengan alasan akan banyak menggunakan efek khusus (special effect –jaw), George Lucas memutuskan untuk menggunakan kamera DV standart yang tidak akan kualitas walaupun banyak di transfer ke komputer, kemudian di kinetransfer (transfer video ke film). Jadi terbukti dengan menggunakan kaset dan teknologi DV, teknologi bukan lagi menjadi sebuah masalah. Pada tahun 2003, kaset DV (khususnya miniDV) digunakan untuk merekam format HDV (resolusi 1440 x 1080 / 1080 line) dengan kompresi MPEG2, yang kemudian format HDV pada tahun 2006 memasuki resolusi square pixel 1920 x 1080 / 1080 line.Satu hal tambahan yang penting adalah teknologi DV mampu menghasilkan gambar dengan kualitas lebih dari profesional dengan harga teknologi yang sangat murah! Kamera layak siar format DVCam sudah bisa didapat dengan range harga 30 hingga 70 juta rupiah, sementara Panasonic DVCPRO memberikan harga lebih murah, yaitu 25 hingga 70 juta rupiah.
14. BTS/ DI ( 1986 )
Video jenis D1 adalah jenis video digital pertama. Walaupun dengan koneksi komponen (Y’CbCr 4:2:2) yang belum digital, dia berhasil melampaui batas video yang (saat itu) menjadi standar penyiaran, yaitu Betacam SP. Betacam SP yang hanya mampu memproduksi 340 line gambar dengan ukuran 440 x 384 (PAL), berhasil dilewati oleh D1 mampu memproduksi 520 line gambar dengan ukuran 768 x 576 (PAL, Square Pixel, 50i), atau 720 x 576.D1 adalah cikal bakal sistem Video Digital. Dengan sistim perekamannya yang Uncompressed, D1 menghasilkan gambar dengan bitrate 165Mb/detik. Dengan lebar pita 19mm (3/4”), D1 mampu merekam gambar dengan durasi maksimal 94 menit. Kaset selebar 32cm dan tebalnya yang mencapai 3,5cm membuat orang malas menggunakannya.Sangat disayangkan : ukuran kaset yang sangat besar, tidak adanya koneksi digital serta peralatan dan kelengkapan pemutar video yang hampir sebesar lemari membuat D1 akhirnya tertinggal dan dunia penyiaran tetap bertahan pada Betacam SP untuk standar penyiaran. Walau beberapa lembaga penyiaran menggunakan sistem D1 hingga akhir tahun 2003.Perkembangan media seri-“D” berlangsung terus hingga tahun 1994 sampai pada format Panasonic D5 muncul.
15. SONY VIDEO 8 ( 1985 )
SONY kembali mengelurakan format video untuk mendukung produk barunya : Handycam. Handycam adalah sebuah istilah yang diciptakan kamera kecil/portabel untuk merk SONY. Untuk mendukung penggunaan kamera kecil home-using tersebut, dibuatlah format baru, yaitu Video 8. Video 8 memiliki besar penampang pita video selebar 8mm dan bentuk fisik kaset relatif kecil dan tipis. Kualitas video 8 menyamai kualitas Betamax dan VHS.Memang pada dasarnya, penggunaan Video 8 dan Handycam ditujukan untuk konsumen kelas rumahan dan bukan untuk pengguna profesional. Dengan harga yang sangat murah serta kamera yang sangat kecil dan ringkas, pemasaran produk ini meledak di tahun 1987. Penggunaan kamera dan kaset video8 ini berlangsung hingga tahun 1996.
16. SONY Hi – 8 ( 1989 )
Video jenis ini merupakan perkembangan dan versi tinggi dari video portabel Video8. Kaset Hi8 mampu menciptakan resolusi 560 x 480 (PAL) dengan jumlah garis horizontal 420 lines, setingkat dengan S-VHS.Sampai dengan lengsernya masa jaya Betacam (di tahun 1996 di Amerika & Eropa, 1999 di Indonesia), CNN, Reuters dan BBC London menggunakan format Hi-8 ini sebagai format standar peliputan berita di lapangan.Dengan format ini pula, SONY mengeluarkan jenis Handycam Pro atau Handycam dengan bentuk badan yang besar dan merekam gambar dengan kualitas profesional (dari segi lensa hingga sensornya yang 3CCD). Kamera bermedia rekam Hi-8 kelas Handycam Pro terbitan SONY memiliki spesifikasi yang sama dengan kamera Betacam SP pada umumnya. Ia memiliki besar sensor mencapai 1/3” x 3CCD. Orang masih sering menggunakan camcorder berformat Hi-8 hingga tahu 2004 (setelah itu camcorder tersebut rusak setelah berumur 12 tahun sejak tahun 1993, padahal spesifikasinya tinggi, handycampro SONY 3 x 1/3 inchi CCD, biasa digunakan oleh jurnalis lapangan BBC). Setelah selesainya masa pengembangan pita kaset analog hingga Hi-8, berhenti pula-lah perkembangan pita kaset analog. Hingga tahun 1995 S-VHS menjadi standar kualitas tinggi kelas bawah (peliputan jurnalis lapangan, shooting pernikahan), sementara Betacam tetap menjadi standar Broadcast dan VHS tetap menjadi standar video rumahan.
17. BETAMAX
Jenis format video Betamax atau sekedar disebut format Beta diperkenalkan oleh perusahaan Sony Jepang pada bulan November tahun 1975 (lebih dulu muncul dari pada format VHS). Perusahaan Sony menyatakan bahwa kualitas format Betamax ini lebih bagus jika dibandingkan dengan rekaman VHS, dan mempromosikan bersama-sama dengan peralatan rekaman Betacam
C.MOTION PICTURE ( GAMBAR HIDUP )
1.ROLL FILM
Ketika Lumiere bersaudara membuat dunia ‘terkejut’ pada 28 Desember 1895, itulah pertama kali sejarah film digoreskan. Mereka melakukan pemutaran kali pertama di depan publik, di Cafe de Paris, Prancis.Ada beberapa film buatan Lumiere yang diputar pada pertunjukan pertama itu. Ada film tentang para laki dan wanita pekerja di pabriknya, kedatangan kere,ta api di Stasiun La Ciotat, bayi yang sedang makan siang dan kapal-kapal yang meninggalkan pelabuhan.Salah satu kejadian unik, yaitu saat dipertunjukkan lokomotif yang kelihatannya menuju ke arah penonton, banyak yang lari ke bawah bangku. Itulah awal sejarah ‘gambar idoep’, nama yang melekat sampai 1940-an untuk film.
2. AMPEX
•1950 – “Jack Mullin, then Bing Crosby’s recordist, memulai bekerja pada electronics division of Crosby Enterprises untuk mengembangkan magnetic TV recorder”
•1951 – Tim dari Ampex dikomandani oleh Charles Ginsburg memulai mengerjakan video tape recorder (VTR); Bing Crosby Enterprises mendemonstrasikan 12-head VTR dengan 100 ips.
•1953 – Vladimir K. Zworykin dan RCA Labs mendemonstrasikan longitudinal VTR yang beroperasi sangat cepat 360 ips dalam 3 heads dengan suara AM
•1956 – CBS broadcast network television mengenalkan videotape pada 30 Nov,
•1957 – Ampex dan RCA berkolaborasi untuk melucurkan compatible warna dan VTR hitam-putih.
•1959 – Unit VTR mobile dari Ampex yang pertama diperkenalkan.
•1959 – Jepang memproduksi Helical Scan, Toshiba pada September mendemonstrasikan prototype helical scan model VTR-1, dengan 2-inch tape running pada 15 ips yang memakai tak lebih dari satu buah head. Setelah itu, Sony mulai untuk mengembangkan helical scan VTR.
•1960 – Ampex berbagi paten VTR nya dengan Sony and Sony memberi konsesi sirkuit transisi ke Ampex.
RANGKUMAN :
Perkembangan media rekam:
PITA MAGNETIK
Analog Quadruplex (1956) • VERA (1958) • Type A (1965) • CV-2000 (1965) • Akai (1967) • U-matic (1969) • EIAJ-1 (1969) • Cartrivision (1972) • Philips VCR (1972) • V-Cord (1974) • VX (1974) • Betamax (1975) • IVC (1975) • Type B (1976) • Type C (1976) • VHS (1976) • VK (1977) • SVR (1979) • Video 2000 (1980) • CVC (1980) • VHS-C (1982) • M (1982) • Betacam (1982) • Video8 (1985) • MII (1986) • S-VHS (1987) • Hi8 (1989) • S-VHS-C (1987) • W-VHS (1994)
Digital D1 (1986) • D2 (1988) • D3 (1991) • DCT (1992) • D5 (1994) • Digital Betacam (1993) • DV (miniDV) (1995) • Digital-S (D9) (1995) • DVCPRO (1995) • Betacam SX (1996) • DVCAM (1996) • HDCAM (1997) • DVCPRO50 (1998) • D-VHS (1998) • Digital8 (1999) • DVCPRO HD (2000) • D6 HDTV VTR (2000) • MicroMV (2001) • HDV (2003) • HDCAM SR (2003)
CAKRAM
OPTIK
Analog Laserdisc (1978) • Laserfilm (1984) • CD Video (1986?)
Digital VCD (1993) • MovieCD (1995?) • DVD/DVD-Video (1997) • MiniDVD • CVD (1998) • SVCD (1998) • EVD (2003) • XDCAM (2003) • HVD (2004) • FVD (2005) • UMD (2005) • VMD (2006) • HD DVD (2006) • Blu-ray Disc (2006)
•Secara khusus, video berkembang sesuai kebutuhan kualitas & tuntutan teknologi.
Minggu, 18 April 2010
Senin, 12 April 2010
PERPUSTAKAAN DAN JASA INFORMASI
Pendahuluan
Perpustakaan sering dikunjungi oleh mahasiswa-mahasiswa yang sudah akan lulus. Mereka banyak menggunakan perpustakaan untuk mencari informasi. Pada saat itu perpustakaan mengalami peningkatan pengunjung yang mencari informasi untuk penelitian. Ada juga pelatihan pencarian sumber secara resmi yang banyak diakses lewat internet. Dengan jalan ini akan lebih mudah cara untuk mengakses data. Di sini juga akan dibahas bagaimana cara mencari informasi, lokasi dan dan evaluasi yang efektif dan juga bagaimana mendapatkan lebih banyak bahan dari perpustakaan. Kebanyakan perpustakaan mempunyai pegawai yang bertugas menjaga setiap tempat. Sehingga hal ini akan memudahkanmu mencari informasi. Tetapi sangat sedikit sekali orang yang mau bekerja di situ. Pegawai itu harus tahu database informasi dan sumber lainnya. Mereka juga melatih pengunjung untuk mencari informasi secara efektif. Mereka bisa memberi informasi yang kita butuhkan dengan segera melalui format kertas, ataupun dengan alat elektronik bahkan sering menggunakan web pages.Sebelum mulai mencari informasi, harus dipikirkan dulu topik apa yang akan diambil, karena hal itu akan memudahkan dan menghemat waktu. Carilah sumber yang bisa menjadi pendukung penjelasan topik, bisa dengan internet,alat itu akan mencari sumber dengan cara yang berbeda diantaranya dengan mengambil teks bebas. Caranya adalah ketikkan kata-kata yang sudah biasa dipakai dan mudah dicari. Lalu jika kata-kata itu diterima maka akan muncul judul-judul artikel yang berhubungan dengan kata-kata yang diketikkan tadi. Pilihlah judul yang dikehendaki, maka akan muncul artikel-artikel tentang informasi yang kita kehendaki. Jika ingin mencari sumber informasi yang lain lagi maka tinggal memilih tema apa yang diinginkan dan membuka tema itu. Untuk pencarian sumber penelitian sebaiknya dibuat rencana strategi yang baik, agar data yang muncul sesuai dengan data yang kita inginkan.Sebagai contoh : dilakukan pencarian informasi tentang lowongan kerja untuk wanita, misalkan dicari di internet maka ketik dengan kata “wanita” dan “lapangan pekerjaan “ tetapi kata-kata ini terlalu terlihat umum dan kurang spesifik dengan tema yang dicari. Seperti kata lapangan pekerjaan bisa diartikan dengan tempat kerja, tempat kerja paksa pabrik ataupun buruh pasar. Hal ini akan menyulitkan untk mencari informasi tentang lapangan pekerjaan wanita. Sebaiknya dibuat kata-kata yang lebih spesifik lagi. Misalkan dicari lapangan pekerjaan untuk wanita yang bukan pekerjaan rumah maka susunlah kata-katanya sedemikian rupa sehingga bisa dicari informasi yang kita inginkan.Pentingnnya memikirkan atau menggambarkan sumber-sumber informasi secara benar sebelum memulai melakukan pencari data. Jika ingin mencari sumber informasi yang lain maka tinggal merubah kata-kata yang kita masukkan ke dalam internet tadi. Jika pencarian informasi masih ada hubungan secara umum, maka akan mudah dicari sumber-sumber pendukung lainnya yang bosa membantu. Saat ini tel;ah banyak tersedia di interner katalog-katalog perpustakaan yang bisa diambil resensimya dan menjelaskan tentanng informasi yang berhubungan dengan sumber informasi yang kita cari. Carilah buku yang sesuai dengan tema yang kita inginkan dan kita bisa meminta penjelasan dari petugas yang ada di situ secara rinci dan jelas, dengan syarat kita benar-benar membutuhkan informasi tersebut. Maka informasi akan muncul dengan format yang berbeda. Dan informasi itu merupakan kunci untuk memilih seberapa banyak wilayah penelitian yang akan diambil. Untuk rencana penelitian sebelumnya harus dipertimbangkan hal-hal seperti berikut, misalnya :
1. hal-hal yang umum
Bagaimana cara memperoleh informasi secara akurat ? jika pemakai adalah seorang yang belajar ilmu alam, sumber yang dicari harus sesuai dengan data yang ada, jika penelitianmu di bidang sosial hal itu tidak terlalu penting.
Pendahuluan
Perpustakaan sering dikunjungi oleh mahasiswa-mahasiswa yang sudah akan lulus. Mereka banyak menggunakan perpustakaan untuk mencari informasi. Pada saat itu perpustakaan mengalami peningkatan pengunjung yang mencari informasi untuk penelitian. Ada juga pelatihan pencarian sumber secara resmi yang banyak diakses lewat internet. Dengan jalan ini akan lebih mudah cara untuk mengakses data. Di sini juga akan dibahas bagaimana cara mencari informasi, lokasi dan dan evaluasi yang efektif dan juga bagaimana mendapatkan lebih banyak bahan dari perpustakaan. Kebanyakan perpustakaan mempunyai pegawai yang bertugas menjaga setiap tempat. Sehingga hal ini akan memudahkanmu mencari informasi. Tetapi sangat sedikit sekali orang yang mau bekerja di situ. Pegawai itu harus tahu database informasi dan sumber lainnya. Mereka juga melatih pengunjung untuk mencari informasi secara efektif. Mereka bisa memberi informasi yang kita butuhkan dengan segera melalui format kertas, ataupun dengan alat elektronik bahkan sering menggunakan web pages.Sebelum mulai mencari informasi, harus dipikirkan dulu topik apa yang akan diambil, karena hal itu akan memudahkan dan menghemat waktu. Carilah sumber yang bisa menjadi pendukung penjelasan topik, bisa dengan internet,alat itu akan mencari sumber dengan cara yang berbeda diantaranya dengan mengambil teks bebas. Caranya adalah ketikkan kata-kata yang sudah biasa dipakai dan mudah dicari. Lalu jika kata-kata itu diterima maka akan muncul judul-judul artikel yang berhubungan dengan kata-kata yang diketikkan tadi. Pilihlah judul yang dikehendaki, maka akan muncul artikel-artikel tentang informasi yang kita kehendaki. Jika ingin mencari sumber informasi yang lain lagi maka tinggal memilih tema apa yang diinginkan dan membuka tema itu. Untuk pencarian sumber penelitian sebaiknya dibuat rencana strategi yang baik, agar data yang muncul sesuai dengan data yang kita inginkan.Sebagai contoh : dilakukan pencarian informasi tentang lowongan kerja untuk wanita, misalkan dicari di internet maka ketik dengan kata “wanita” dan “lapangan pekerjaan “ tetapi kata-kata ini terlalu terlihat umum dan kurang spesifik dengan tema yang dicari. Seperti kata lapangan pekerjaan bisa diartikan dengan tempat kerja, tempat kerja paksa pabrik ataupun buruh pasar. Hal ini akan menyulitkan untk mencari informasi tentang lapangan pekerjaan wanita. Sebaiknya dibuat kata-kata yang lebih spesifik lagi. Misalkan dicari lapangan pekerjaan untuk wanita yang bukan pekerjaan rumah maka susunlah kata-katanya sedemikian rupa sehingga bisa dicari informasi yang kita inginkan.Pentingnnya memikirkan atau menggambarkan sumber-sumber informasi secara benar sebelum memulai melakukan pencari data. Jika ingin mencari sumber informasi yang lain maka tinggal merubah kata-kata yang kita masukkan ke dalam internet tadi. Jika pencarian informasi masih ada hubungan secara umum, maka akan mudah dicari sumber-sumber pendukung lainnya yang bosa membantu. Saat ini tel;ah banyak tersedia di interner katalog-katalog perpustakaan yang bisa diambil resensimya dan menjelaskan tentanng informasi yang berhubungan dengan sumber informasi yang kita cari. Carilah buku yang sesuai dengan tema yang kita inginkan dan kita bisa meminta penjelasan dari petugas yang ada di situ secara rinci dan jelas, dengan syarat kita benar-benar membutuhkan informasi tersebut. Maka informasi akan muncul dengan format yang berbeda. Dan informasi itu merupakan kunci untuk memilih seberapa banyak wilayah penelitian yang akan diambil. Untuk rencana penelitian sebelumnya harus dipertimbangkan hal-hal seperti berikut, misalnya :
1. hal-hal yang umum
Bagaimana cara memperoleh informasi secara akurat ? jika pemakai adalah seorang yang belajar ilmu alam, sumber yang dicari harus sesuai dengan data yang ada, jika penelitianmu di bidang sosial hal itu tidak terlalu penting.
2.nasionalisme
Apakah sebuah wilayah asli penting untuk dicantumkan dalam databasse? Jika kita mengikuti penelitian pendidikkan, maka kita mempunyai hubungan dengan bahan-bahan yang hanya ada di sistem pendidikkan UK.
3. Bahasa
Jika kita tidak menguasai bahasa lain selain bahasa kita, dan tidak mempunyai alat untuk mentranslet bahasa asing lainnya. Maka kita akan mengalami sedikit kesulitan .
4. Hubungan legitimasi pendidikkan dan kualitas
Hal ini tergantung pada wilayah penelitian contoh artikel di surat kabar atau jurnal yang telah disyahkan oleh orang-oranng yang tahu dalam bidangnyaKita harus memikirkan apa yang akan diambil dalam penelitian dan sangat bagus sekali jika kita terlibat dalam penelitian itu. Dari kebanyakan katalog perpustakaan dan database yang dipakai ada sebagian yang sesuai dengan topik penelitian yang telah diambil. Dan jika kita tidak yakin bagaimana cara kita untuk menyusun strategi pencarian ataupun kita mempunyai masalah, maka perpustakaan akan membantu menyelesaikannya.
Mencari di buku-buku lama
Pelatiahan katalog per[ustakaan atau akses katalog secara langsung yang intinya adalah sama keduanya untuk membantu mencari sumber informasi dengan mencantumkan nama perngarang, judul buku, kata kunci kalimat yang mungkin lebih lengkap dan dan bisa menyempurnakan pencarian kita. Dan mungkin ditemukan juga lembaga pendidikkan kita ada dalam katalog lain, misalnya bahan-bahan disertasi mahasiswa. Untuk lebih mudahnya lagi bisa menggunakan katalog langsung karena kita bisa tahu lebih banyak lagi daripada yang ada di buku, dengan data yang akurat sesuai dengan jenis penelitian. Selain mempunyai buku pegangan dari perpustakaan sendiri perlu juga dicari data lain yang tidak ada di perpustakaan. Kebanyakan Perpustakaan sekarang juga dilengkapi dengan website dan kita bisa menjadi anggota yang bisa dengan mudah mengakses data. Sekarang ada juga kesatuan perpustakaan yang mengumpulkan katalog-katalognya menjadi satu. Seperti misalnya COPAC, yang merupakan kumpulan katalog dari 19 Universitas terbesar di Ireland.Jika bahan-bahan informasi yang ada diperpustakaanmu kurang mencukupi untuk dijadikan sumber penelitianmu, maka bisa diatasi dengan mencari sumber data di Perpustakaan lain.
Artikel di Surat Kabar dan di Internet
Kita harus menyusun strategi dan menyusun prioritas yangkesemuanya itu membutuhkan identifikasi. Sumber yang diambil haruslah sumber yang relevant dan akurat yang biasanya tidak disediakan diperpustakaan. Jika informasi yang dikehendaki merupakan ionformasi umum maka kita bisa meminta bantuan pembimbing perpustakaan untuk mermbantu kita mencari informasi di artikel yang akurat dan ada di lembaga pendidikkan kita. Dan untuk menghemat biaya lebih bisa dimanfaatkan dengan lebih cepat. Jika kita belajar tentang ilmu alam, atau bisnis dan manajemen. Artikel di internet bisa ditemukan setiap saat sekarang yang menyangkut ilmu hukum dan sosial lainnya. Dan pegawai perpustakaan akan membantu memberi informasi databasse yang lebih mendukung untuk topik kita dan menemukannya. Artikel yang ada di Koran bisa dibaca kapan saja kita bisa disaat kita istirahat kita bisa menggunakan waktu kita untuk mencari bahan di Koran. Di internet juga telah tersedia kumpulan artikel-artikel dari kran yang diakses kapan saja kita mau hanya sajam kita perlu berhati-hati karena banyak data yang telah dipalsukan. Informasi database adalah sumber informasi komersial yang dibeli perpustakaan dalam bentuk CD-Rom atau membeli akses lewat web. Kita harus mempunyai keahlian untuk mengkomposisikan pencarian kita secara langsung/online. Untuk referensi artikel terkadang tempat penuh terisi oleh artikel-artikel. Database hanya berisi referensi artikel dalam bentuk yang abstrak atau ringkasan dari isi suratkabar yang intinya agar kita bisa memilih apakah isi artikel itu relevant unutuk penelitian yang diambil. Masalahnya, rasa kebangsaan dan perbedaaan bahasa bisa mengubah isi artikel yang terkandung di dalamnya. Referensi suratkabar yang diambil harus dipilih sesuai dengan jenis dan macam penelitian kita jika kita mengalami kesulitan maka kita bisa minta bantuan kepada pegawai yang ada dipeerpustakaan untuk menjelaskan tentang data yang diambil. Selain referensi yang telah didapat kita harus mencari sumber yang lain lagi yang bisa kita dapatkan dengan mengakses informasi yang ada di perpustakaan lain. Di situ bisa ditemukan keterangan jurnal secara detail yang tidak didapatkan dari lembaga perpustakaan kita, seperti detainya koleksi buku. Dan database merupakan sumber yang dapat dipercaya karena sudah tersebar ke masyarakat umum dan diakui kualitasmnya. Tetapi tidak semua internet menyajikan database yang akurat kita hanya perlu mengevaluasi sumber yang dipakai secara hati-hati. Jika ingin menggunakan sumber dari internet, kita perlu mengakses kualitas yang bagus dari informasi yang disediakan, kita harus berusaha mandiri karena di sana tidak diajarkan tentang cara seperti itu. Cara yang dapat kamu lakukan adalah mencari tempat lain yang evaluasi kerjanya tidak separo-separo biasanya melalui pelatih-pelatih atau pemilik perpustakaan untuk mencari sumber yang relevant perpustakaan bisa membuat website tersendiri dalam tempat yang terpisah dari yang lainnya. Jika tidak pegawai diperpustakaan akan membantu kita memilih subjek yang relevant yang bisa membantu mengembangkan penelitianmu.
Jika kita ingin menjaring web untuk penelitian, ada kriteria-kriteria yang harus digunakan uintuk mengevaluasi website yaitu:
1. apakah informasi itu akurat ? (actual dalam bentuk yang bagus dan sesuai dengan susunanya)
2. Apakah bukti penelitiannya mendasar?
3. Dari mana asal sumber itu ? siapa yang menulisnya? Mungkinkah pengarangnya bisa dipercaya?
4. Bagaimana membuat referensi untuk informasi beberapa sumber yangn dipublikasikan?
Internet tidak bisa mengecek manakah sumber informasi yang berharga, tetrapi kita sendirilah yang harus mempunyai keyakinan penuh yang kita dapat dari hal-hal yang telah kita pelajari sebelumnya.
Mengambil data dari Perpustakaan Lain
Perpustakaan yang ada di Universitas kita tidak menyediakan semua buku dan jurnal yang relevant seperti yang kita kehendaki, padahal hal itu sangat kita butuhkan. Dalam hal ini kita perlu mencari sumber informasi dari poerpustakaan yang ada di Universitas lain. Di mana di sana terdapat lembaga local yang sesuai dengan subjek penelitian yang akan kita ambil. Hal ini memudahkan kita untuk mencari data. Tetapi sebelumnya kita harus mengkonsultasikan bahan-bahan kiya sendiri kepada pemilik perpustakaan terlebih dahulu. Mencari data di perpustakaan lain adalah uintuk melengkapi data yang telah kita milliki, tetapi tidak semua perpustakaan mengizinkan mengambil data di ditu ada sebagian perpustakaan yang hanya memberi izin jika kita telah menilis surat p[ermihonan yang kita ajukan kepada pemilik perpustakaan.
Pilihan untuk mengunjungi perpustakaan lain untuk memperoleh pinjaman sumber informasi yang kita cari, harus melewati system pengawasan yang mungkin berbeda dengan yang ada di perpustakaan kita. Kita bisa mengetahui bahwa peeerpustakaan juga akan memesan di tempat peminjaman antar perpustakaan. Hal lainnya mungkkin kita akan dibatasi oleh nomor individu dan tempat darimana kita belajar untuk mendistribusikannya. Jadi pahamilah situasi di sekitar dan rencanakan denngan hati-hati apa yang kita kehendaki dan bahan-bahan apa yangn harus kita hasilkan sendiri. Kita juga harus memanfaatkan batas waktunya dengan semaksimal mungkin artikel dalam Koran biasanya menginformasikan kebenaran dengan cepat, tetapi kumpoulan-kumpulannya dapat diambil beberapa minggu kemudian. Perpustakaan di inggris mempunyai salinan yang bisa dipinjamkan kepada siapa saja. Kebanyakan perpustakaan Universitas menolak untuk meminjamkan buku-buku di luar institusi mereka sendiri.
Belajar Jarak Jauh
Banyak pelajar yang belajar sambil bekerja dan tempat mereka belajar dengan bekerja lumayan jauh. Akibatnya perpustakaan Universityas tidak mengalami kenaikkan pengunjung pada akhir-akhir ini, karena banyak data yang diambil lewat website. Tujuannya agar kita bisa mengambil data tidak hanya di perpustakaan sendiri tapi melului perpustakaan di Universitas lain melalui website. Jika mempunyai akses internet di rimah, kita busa menanyakan kepada pengelola perpus bagaimana cara mengakses dari luar dan poasword yang digunakan intuk bisa mengakses data yang releveran. Pengontrol akses untuk data elektronik mengalami kanaikan umum, yang diikuti juga dengan kenaikkan pengunjung perpustakaan universitas lain untuk maksud referensi dan dalam beberapa hal, terutama jika kita belajar separo waktu. Untuk menjamin relevannya data-datamu bisa bergantung dari sesuai tidaknya dengan data yang ada di perpustakaanmu yang telah mendapat persetujuan nasional dan penggunaan perpustakaan akan memberi tempat terbaik untuk memberi masukkan kepada kita dalam hal ini. Perpustakaan Univeristas juga dilengkapi dengan beberapa pendukung yaitu spesialis pengajar untuk pelajar yang belajar jarak jauh seperti dengan mengeposkan bahan-bahan sumber informasi yang akan dipinjam.
Simpanlah data-data yang telah diambil
Satu hal yang harus diingat ketika menetapkan penelitian agar tetap dalam catatan yang akurat dan sesuai dengan data yang kita ambil, buatlah catatan dan kartu indeks dengan format yang benar. Hal ini akan memudahkan kita untuk menulis penelitian.sebaiknya kita menyusun semua referensi yang kita butuhkan dan kita memproses penelitian kita sesuai dengan system yang ada. Seperti system referensi yangn ada di Havard yang sangat banyak digunakan. Perpustakaan bisa menyediakan petujuk untuk referensi dan bibliografi jika kita bisa memanfaatkannya. Alternatifnya, sumber-sumber di interneet akan membantu kita memperoleh referensi dari semua tipe bahan-bahan, baik dari buku dan jurnal yang diperoleh untuk menampilkan video atau webpage yang kita gunakan.
Jangan lupa untuk tetap mencatat penelitian yang dilakukan di mkatalog perpustakaan yang terdapat dalam database informasi di internet. Banyak sekali sumber uinformasi yang bisa kita ambil. Kita tinggal menentukan apa yang harus dicari dan mengkombinasikan kata-kata kita. Dengan catatan yang kita buat makka kita akan terhindar dari pekerjaan mengulang. Database yang lain akan ikut tersimpan dengan sewmndirinya. Harus disadari seberapa panjang aturan yang harus kita jalani untuk menetapkan strategi penelitian kita. Jika kita menemukan layanan yang bermanfaat kita harus menyimpannya dalam waktu yang lama dan itu akan menjamin kita untuk memperoleh data yang lengkap.
Penutup
Kita bisa mendapatkan cukup panduan untuk memulai pencarian bahan –bahan untuk mendukung penelitian kita. Maksud dari mengambil data informasi yang berkualitas adalah data terbaru pada saaat ini yang mungkin tidak berlaku lagi untuk dua tahun mendatang. Artikel yang terdapat dalam internet terkadang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam surat kabar yang sesungguhnya. Walau demikian sebenarnya yang terdapat dalam internet adalah teks yang asli, hanya saja mungkin akademiknya yang salah memasukkan data ke dalam interner. Dan jika data itu harus diambil maka pengelola perpustakaan kita akan akan bisa membantu kita untuk mencari data yang benar dan jika ternyata di perpustakaan itu tidak bisa membantu kita maka kita harus mencari data yang lain.
Dengan demikian walaupun maksud mengambil informasi mungkin diubah sedikitb tapi kebenaran umumnya telah hilang.
Penelitian harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. perencanaan lakukan apa yang kita pikirkan sebelum kita mulai mencari data
2. waktuberilah waktu yang banyak untuk memperoleh bahan yang kita butuhkan
3. SempurnaPeriksa semua informasi yang akam menjadi penelitian kita
4. akurattulislah atau simpanlah segala informasi yang telah kita dapatkan.
Jika kita memenuhi kriteria itu semua kita bisa memperoleh data yang luas dan berbagai jenis informasi untuk penelitian kita.
DAFTAR PUSTAKA
Tony, Greenfield, Research Methode for Rostrgaduates. Second Edition, Oxford University Press Inc.New York:2002
Langganan:
Postingan (Atom)